Kamis, 03 Juli 2014

Diorama Indonesia



Indonesia Raya Merdeka-Merdeka
Terlelap lama sudah wahai putra-putri bangsa
Terbuai mimpi karena gelar macan asia
Bangun...!!!
Banyak minor dipelosok negeri
Mengais-ngais meminta bantuan mu
Banyak anak-anak kecil buta aksara
Mengais-ngais meminta pendidikan mu
Banyak petani-petani miskin
Mengais-ngais meminta beras mu
Banyak nelayan-nelayan kecil
Mengais-ngais meminta ikan mu
Wahai Ibu Pertiwi...
Putera-puteramu kini sudah tak lagi waras
Saling sikut hanya demi tahta dan harta
Hasil alam yang kau berikan Cuma-cuma
Dimonopoli hingga tak lagi didapat dengan cuma
Sering kali kau menjewer putera-puteramu
Dengan banjir, gunung meletus, dan gempa
Tapi mereka tak jera ataukah hanya pura-pura jera
Inikah yang kau inginkan dari kami??
Setelah 68 tahun kami merdeka..
Serasa asing di Negeri Sendiri
Serasa miskin di Tanah yang Kaya
Maafkanlah kami Ibu Pertiwi
Yang masih merasa nyaman dalam mimpi


Semarang, 22 Juni 2014


Muhammad Aunur Rofiq

Selasa, 20 Agustus 2013

Kisah di Balik Malam


Pria itu kini benar-benar tak kuasa menahan asanya
Air matanya tumpah Semua rasa sakit melebur
Dalam hangatnya butiran2 lembut air matanya
Tak ada satupun kata2nya yang mampu mewakili rasanya saat ini
Kepedihan yang entah dari mana kembali muncul
Menemani malam2 dinginnya
Air matanya menceritakan semuanya
Kepedihan dan rasa sakit yang dia pikul
Bersama dunia dia tersenyum
Menyembunyikan kesedihan dibalik senyum palsu
Dia benar-benar takut jika dunia meninggalkannya Sendiri,,
Menggigil kedinginan Meratapi rasa pilu yang ia hadapi Sendiri,,,,,,
Melewati mimpi-mimpi buruknya Setiap malam dan selalu sama
Dan dia kini membenci malam
Malam selalu hadirkan rasa pilu di hatinya
Selalu dan selalu
 Jadikan dia menggigil kesepian
Di sudut sempit kamar tidurnya
Sendiri dan selalu sendiri
Hatinya menangis
Tak kuasa menahan rasa pedihnya
Beban berat yang ia pikul
Di atas bahu kurusnya
Dan sekali lagi,,,
Air mata yang dapat menceritakan
Semua rasa yang ia rasakan
Air mata dan selalu air mata
Selalu jujur mengisahkan Kisah pedihnya

Semarang, 3 Agustus 2013
Muhammad Aunur Rofiq

Imitasi

Lelah mengikuti alurmu
Aku tak pernah tau
Apa yang jadi jalanmu
Yang kau sebut hidup
Cara pandangmu
Aku tiru
Cara hidupmu
Aku ikuti
Tapi
kini aku muak

Menjadi imitasimu
Aku bukan kamu
Dan kamu bukan aku
Menjadi
penirumu

Jadi racun bagiku
Perlahan-lahan membusuk
Dan akhirnya mematikanku
Kesalahanku menirumu
Kecerobohanku mengikutimu
Tapi kini aku tahu
Bahwa aku bukan dirimu

Semarang,
27 Juli 2013 Muhammad Aunur Rofiq

Rabu, 24 Juli 2013

Puisi

Lihatlah Aku 

 Oleh: Muhammad Aunnur Rofiq

Diam memandangmu
Mengamatimu
Perlahan-lahan
Aku mulai masuk
Masuk ke dalam duniamu
Aku terpesona akan kehadiran
Sosokmu kokohkan semangatku
Tapi tidakkah kau tau
Aku di sini dalam kesakitan
Sakit terabaikan olehmu
Rasa sakit itu kini benar-benar menghantui aku
Heiii!!!!
Lihatlah ke arahku
Jangan acuhkan aku kembali
Sembuhkan aku
Dari sakit yang telah lama menghantuiku
Menghantui hatiku yang mengagumimu
Kemarilah dan habiskan waktu bersamaku
Kamu....